My Slide

Translation Performance

08.27 / Diposting oleh UsLih First / komentar (2)

In our information-based society, trends towards globalization continue to diminish the significance of national borders in terms of trade and information exchange. International governmental, non-governmental and large corporate multinational organizations create information flows that span many nations. In addition, the rapid expansion of the World Wide Web, possibly the world’s largest multilingual document repository, also contributes to this international information exchange. One of the major barriers to this global information exchange is raised by the multiplicity of languages in the flow of information. Etymologically, one of the language definitions is the method of human communication, either spoken or written, consisting of the use of words in a structured and conventional way. Language is also understood as the system of arbitral sound symbol used by a particular country to cooperate, interaction one another and self identify.
The possession of language, more than any other attribute, distinguishes human from animals. To understand

our humanity one must understand the language that makes us human. According to the philosophy expressed in the myths and religions of many peoples, it is language that is the source of human life and power. To some people in Africa, a newborn child is a kuntu, a “thing’” not yet a muntu, a “person’.” Only by the act of learning language does the child become a human being. Thus according to his tradition, we all become “human” because we all know at least one language.
Edwards estimates the existence of approximately 4.500 living languages, of which at least 30 are spoken by 30 million people or more (including non-native speakers). It is clear that in order to function in this multinational, multilingual world, information exchange can no longer be restricted to a single language. Although the English language is spoken by a large number of people and English serves as the lingua franca for the students of English Education Study Programme of the State Islamic College (STAIN) of Jurai Siwo Metro, the exclusive use of English leaves publications in other languages inaccessible. At the same time, information in English is withheld from those millions who do not speak English.
Based on the above description, it can be consider that nowadays science and technology develop fast consequences of developing culture, economic and politic. The countries relation conduce the people toward difficulty in accepting the important information’s needed. The method to overcome the problems of language and acceleration of increasing science and technology, either traditional or modern pedagogy has not been found yet. It needs a new approach due to the process of learning and teaching to meet a demand the needs both today and the future. In this case language becomes a system of communication in speaking and writing used by a particular country to cooperate, interaction one another and self identify. Therefore is needed an agreement in specifying language as the international language. So that people from various and different countries can communicate one another.
In addition, there are several things needed to be considered in order to be able to use English properly. Among other things are translation, vocabulary, language style, way of reading and writing well. Generally in Indonesia, to know the usage of English better and quickly and making it easy is learning translation from English to Indonesia or Indonesian to English. Translation is assumed covering the four English skills, they are writing, reading, listening, and speaking. Translation also demands of understanding the branches of English subject such as grammar, sociolinguistics, psycholinguistics, semantics, etc. Referring to human relation, translation becomes integral part guiding the people learning relation intercultural, both science and technology. Therefore translation performance is badly needed by Indonesian people to increase their knowledge. Performance means possession of the means or skill to do translation quickly and effectively. It means the message from source language (SL) can be sent into target language (TL) correctly and accurately.
Translation is the action or process of translating. A person who translates from one language into another is called a translator. In fact, a great deal things happen to many translators is still doing many mistakes. Most of the mistakes are by reason of difficulty in choosing the suitable equivalent to a word, phrase, clause and sentence, inequality of language structure, background of the language culture, and writing certain words. These mistakes absolutely influence the result of translation. Therefore, the purpose of source language (SL) becomes different to target language (TL), and then the message can’t be sent to the readers. Referring to these phenomena, it can be considered that studying the translation is not easy. It needs to know the method or strategy of translation.
Based on the translation literature, there are some translation methods which have been developed by the expert. According to Jacobson the varieties are classified refer to kinds system of symbol. While Savory classifies them refer to kinds of source language which translated, then Nida & Taber, Larson and of New Mark classifies them refer to translation process and the emphasis.
According to Catford a translation is the replacement of textual material in one language (SL) by equivalent textual material in another language (TL). (Change the source language into equivalent target language).
Catford also gives limitation of translation as follow: “translation is an operation performed on language: a process of substituting a text in one language for a text in another”. Obviously, translation is an activity related with languages. That is a process of substituting a text from one language to another.
Based on above statements, the writer assumes that translation is an effort to change source language to commensurable text in target language. Not merely simply translation but emphasis on sending the writer’s message. It means not only translate letter by letter, or word by word, but also emphasizes at the equivalent meaning based on the source language without changing the purpose of message sent.

Be Continue.. Label:

JADILAH GURU YANG BAIK

09.15 / Diposting oleh UsLih First / komentar (0)

(Tujuh Hukum Mengajar)

John Milthon Gregory merupakan penulis buku yang terkenal tentang Tujuh Hukum Mengajar. Inilah beberapa petunjuk yang perlu dipersiapkan oleh seorang guru yang baik.


  1. Persiapkan bahan pelajaran dengan mempelajarinya berulang-ulang. Jangan mengandalkan bahwa kita sudah pernah mempelajarinya karena apa yang kita ketahui dahulu pasti sebagian sudah terhapus dari ingatan kita.
  2. Carilah urutan yang logis dari tiap bagian dalam pelajaran yang dipersiapkan tersebut. Setiap pelajaran selalu berangkat dari pengertian-pengertian dasar yang sederhana baru ke tingkat pengertian yang tinggi. Pelajari urut-urutan yang logis dari pelajaran yang dipersiapkan tersebut sampai terwujud suatu pengertian yang dapat saudara uraikan dengan kata-kata sendiri.
  3. Carilah analogi atau ilustrasi untuk mempermudah penjelasan fakta-fakta dan prinsip-prinsip yang sulit dimengerti oleh siswa. Khususnya prinsip-prinsip abstrak.
  4. Carilah hubungan antara apa yang diajarkan dan kehidupan sehari-hari siswa. Hubungan-hubungan inilah yang akan menentukan nilai praktis penerapan dari pelajaran itu.
  5. Gunakan sebanyak mungkin sumber referensi berupa buku-buku atau bahan-ahan yang sesuai, tetapi pahami dahulu sebaik-baiknya sebelum menyampaikan kepada siswa.
  6. Harap diingat bahwa lebih baik mengerti sedikit, tetapi benar- benar mantap daripada mengetahui banyak, tetapi kurang mendalam.
  7. Sediakan waktu yang khusus untuk mempersiapkan tiap pelajaran sebelum berdiri di depan kelas. Dengan persiapan matang, kita akan semakin menguasai pengetahuan dan gambaran apa yang diajarkan akan semakin jelas.


Be Continue.. Label:

MENUJU NASIONALISME 2009

07.54 / Diposting oleh UsLih First / komentar (0)

MENUJU NASIONALISME 2009
Banyak isu tentang krisis pangan 2009, iklim global, “rencana” bencana-bencana nasional dan seterusnya, tetapi saya kira Indonesia akan mencapai kecemerlangannya di tahun 2009.

Perkara utang luar negeri sebenarnya cukup mandatkan pada kongres Akuntan Nasional, minta mereka berdiskusi kemudian kasih rekomendasi yang menunjukkan betapa simpelnya sesungguhnya masalah itu untuk kita atasi kalau kita mau.

Masalah kepemimpinan, kita berlimpah-limpah calon presiden dan pemimpin nasional. Tinggal ambil dari teritori mana, golongan apa, parpol, suku, agama dan apapun saja yang sangat siap dengan kandidat-kandidat Presiden. Bahkan pun kaum selebritis sangat siap memimpin Indonesia, terbukti dengan begitu banyak urusan yang dipercayakan kepada mereka.

Yang paling nyata adalah semakin tercapainya persatuan nasional menjelang 2009. Kita bangsa bersuku-suku, tetapi cita-cita satu. Kita berbagai budaya, tetapi gawang kehidupan satu. Kita punya banyak agama, ragam nilai, pilihan-pilihan di segala sisi kehidupan, tetapi obsesi kita satu.
Anak-anak kita boleh pilih masuk kuliah di fakultas kedokteran, ekonomi, teknik, bahkan tarbiyah dan ushuludin, namun harapan hidupnya satu.

Satu cita-cita itu ialah menjadi kaya. Ada kerbau, ada macan, berang-berang, buaya, cacing, badak dan jutaan macam hewan lagi, tetapi cita-citanya sama, ingin terbang dengan pakaian kemewahan.

Macam-macam profesinya, macam-macam permainannya, beragam-ragam kostum dan ayat-ayatnya, namun obsesinya menyatu secara nasional, ialah menjadi kaya. Memang ada klise-klise aplikatif, ingin mengabdi kepada bangsa dan Negara. Ingin berbakti kepada agama dan masyarakat. Dan mungkin benar awalnya memang bercita-cita seperti itu, tetapi begitu ketemu pintu-pintu gerbang keuangan, mulai penuhlah kepala oleh cita-cita tunggal itu. Kalau anak-anak kecil dikasih iklim , ingin menjadi dokter, insinyur, presiden. Tetapi, ujungnya sama saja, yaitu menjadi kaya. Memilih orang kaya meskipun tidak menjadi dokter, dari pada sebaliknya. Kalau kerja enam hari menjadi lima hari, kelak kita runding bagaimana dalam seminggu kita kerja sehari saja dan libur enam hari, kita sepakati asalkan gaji tetap seperti semula.

Orang memilih tidak kerja tetapi dapat gaji dari pada kerja tetapi tidak dapat gaji. Kalau sampai kerja tak dapat gaji maka ayat-ayat tentang hak buruh, HAM dan lain sebagainya bertaburan di langit dan bumi. Tetapi, kalau terpaksa kita balik, tidak kerja tetapi dapat gaji, sebenarnya itu yang diam-diam lebih OK dalam hati. Uang berlimpah jauh lebih menarik dibanding Tuhan. Korupsi jauh lebih dipercaya dibanding hakikat dan metebolisme rezeki. Kalau melebar sedikit; orang diam-diam sudah makin sanggup meragukan Tuhan, tetapi tak seorang pun memiliki keberanian untuk meragukan demokrasi. Orang lebih tertarik pada kekayaan dibanding kesalehan. Orang lebih terpikat oleh uang banyak dari pada diganti kepribadian. Orang lebih tergiur pada kajayaan materi dibanding kemuliaan hidup.

Sejumlah orang akan membantah kalimat-kalimat ini. Tetapi, saya sendiri sudah terlalu tua untuk mampu untuk membantah hal itu. Saya sudah uzur dan ditipu mentah-mentah oleh fakta-fakta kehidupan, sehingga sampai menjelang kepala enam saya belum memulai apa pun untuk memperjuangkan karier saya, jangankan lagi untuk menegakkan kebenaran.

Tentu saja kalau yang dimaksud karier adalah berkuasa, kaya dan terkenal sudah lama manurut ukuran saya dengan hidup tempe sambel dan menikmati cuci kaus piring , saya tidak memiliki problem apa-apa. Tetapi, yang saya maksudkan karier adalah Mandat kekhalifahan dengan konten dan skala yang jelas yang sudah lama saya siapkan namun tidak ada gejala bahwa sejarah manusia ini memerlukan kualitas kesejahteraan hidup semacam itu.

Menjadi kaya adalah isi utama kepala manusia Indonesia. Dan untuk itu dipilih cara dan jalan yang paling bodoh dan malas. Akting menjadi pemimpin, ustadz, artis, wakil rakyat, lembaga zakat infak atau apa pun. Jangan khawatir, tentu saja orang juga menikmati hubungnya dengan Tuhan, kenyamanan bernasionalisme, kesantunan sosial, estetika dan lain sebagainya, tetapi itu semua sekunder. Yang primer di kepalanya adalah harus ada kenyataan bahwa ia berlimpah atau sekurang-kurangnya aman di bidang keuangan. Yang dimaksud aman itu takarannya begini: Wah, rugi saya, ada proyek basah banget tapi gagal memenangi tender…”

Padahal dia tidak rugi apa pun. Tidak rugi pun merasa tidak aman. Aman adalah laba sebesar-besarnya dengal modal sekecil-kecilnya. Dasar moral ilmu ekonomi di seluruh muka bumi ini sejak awal memang curang.

Di luar kaya unsur lain populer juga, powerful and famous, berkuasa dan terkenal. Tetapi, kekuasaan dan popularitas juga membawa visi-misinya sendiri. Merangsang manusia untuk lebih kaya dan lebih kaya.

Kekuasaan adalah jalan yang popular untuk mencapai cita-cita tunggal itu. Maka tidak ada agenda apa pun yang lebih diutamakan dibanding apa pun dalam kehidupan bangsa Indonesia melebihi agenda politik. Siang malam, tiap bulan, tiap tahun, headline, ngerumpi, obrolan gardu, apa pun saja sesungguhnya berpangkal dan berujung pada agenda politik.

Taken from Jejak Tinju Pak Kyai

Be Continue.. Label:

Pembudayaan nilai Agama dan Era Reformasi

08.54 / Diposting oleh UsLih First / komentar (0)

Oleh. Uslih

Didiklah dan persiapkanlah anak-anakmu untuk suatu zaman yang bukan zaman mu, mereka akan hidup di suatu zaman yang bukan zaman mu (Ali bin Abi Thalib)

Peran keluarga dalam mensosialisakan nilai-nilai agama dan seluruh jenis ibadah sangatlah penting dan strategis. Dalam keluargalah pendidikan dan pembudayaan nilai agama dapat tertanam dengan baik sejak usia anak masih sangat dini, bahkan Nabi Muhammad SAW menyebutnya sebagai sejak dari buaian (kandungan ibu). Para ahli ilmu jiwa pendidikan berpendapat bahwa karakter dasar manusia amat bergantung pada bangunan awal orang tua mengolah dan membimbing sang anak. Karena pada usia itulah sang anak mendapat bimbingan langsung dari kedua orang tuanya. Sehingga apa saja yang dipraktikan orang tua sangat mungkin ditelan mentah-mentah dan bakal menjadi bagian yang tak terlupakan oleh sang anak. Freud menyebutnya sebagai masa ”peka”. Pada masa ”peka” ini orang tua dituntut berhati-hati di dalam mensosialisaikan nilai-nilai, baik nilai-nilai sosial, budaya, maupun agama itu sendiri. Terlebih lagi pada prilaku sosialnya sehari-hari.
Apalagi di zaman global sekarang ini, di tengah arus informasi yang massif (hebat) ini, di mana nilai-nilai yang beragam sifat, jenis, dan asalnya merasuk ke dalam rumah kita tanpa permisi, tentulah peran keluarga amat dituntut untuk mengawal dan memagari lingkungannya agar tidak tercemari oleh sistem hegemoni informasi yang kian mendunia, memudahkan manusia, tetapi sekaligus menakutkan dan membuat gerah para orang tua. Keluraga akhirnya dituntut sekali lagi agar tetap melakukan peran strategis yang tidak bisa dilakukan oleh media massa atau institusi sosial lain secara maksimal. Ini berarti bahwa beberapa penajaman fungsi keluarga perlu dilakukan demi menyelamatkan generasi bangsa di masa depan. Kita berharap agar fungsi keluarga ini bisa komplementer atau saling melengkapi dengan institusi lainnya.
Peran-peran strategis yang dapat dilakukan oleh keluarga adalah: Pertama, orang tua seyogyanya bisa tampil sebagai pendidik dan suri tauladan. Di sini, orang tua menjadi pendidik inti dari anak-anak. Metode pendidikan paling efektif dalam lingkungan keluarga adalah lewat contoh dan pembiasaan ibadah shalat dan puasa dengan melihat orang tua melakukannya secara rutin. Apalagi jika membiasakan shalat berjamaah dengan seluruh anggota keluarga. Dibanding dengan semua metode dan tempat belajar, keluargalah yang paling efektif melakukan pembiasaan model begini.
Kedua, orang tua seabagi pemberi motivasi. Kita semua tentu berharap bahwa ibadah kita tidak hanya formal tetapi juga bersifat fungsional, tidak hanya berdimensi satu dan cenderung verbal (lisan) tetapi juga berdimensi banyak dan cenderung praktis (tindakan), mencakup seluruh cipta , rasa dan karsa manusia. Untuk itu orang tua perlu memberi motivasi anank-anak mereka guna mempertajam kepekaan sang anak terhadap kebesaran Tuhan. Misalnya, orang tua bisa memotivasi anak-anak untuk belajar memahami alam sekitarnya. Selain untuk menambah ilmu pengetahuan juga lebih penting lagi untuk menyadari kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Upaya untuk menumbuhkan motivasi anak dalam beribadah, mempelajari dan mensyukuri ciptaan Tuhan yang terhampar luas di bumi, di langit dan apa saja yang ada di antara keduanya itu, menurut hemat kita paling efektif dilakukan oleh keluarga. Karenanya, memberi motivasi untuk kegiatan mencari ilmu sebagai bagian dari iman, perlu ditanamkan oleh keluarga kepada anak secara terus-menerus.
Ketiga, sebagai fasilitator (penyedia). Keluarga diharapkan memfasilitasi perkembangan anak-anaknya dengan tidak lagi bisa melihat orang tua sebagai sumber nilai satu-satunya. Orang tua perlu memfasilitasi anak dengan berbagai kelengkapan sesuatu dengan kebutuhan. Misalnya dengan menyediakan sumber-sumber informasi seperti majalah, buku, surat kabar, kaset, vidio dan sebagainya. Atau, mendaftarkan mereka memasuki sekolah dan kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan yang dinilai akan berguna bagi anak-anak. Untuk itu, orang tua perlu memberikan prioritas pada kegiatan penyediaan fasilitas belajar bagi anak-anak mereka. Jangan sampai fasilitas diberikan secara berlebihan sehinggga membuat sang anak bukannya menjadi kreatif, tetapi justru menjadi manja dan tak bergairah. Anak melihat fasilitas sebagai tumpukan ego para orang tua. Hal ini tentu berbahaya bagi perkembangan mental anak.
Keempat, orang tua bertindak sebagai penyaring informasi bagi anak-anaknya. Firman Allah berikut ini dengan jelas menandaskan bahwa
”Dan orang-orang yang menjauhi taghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka merupakan berita gembira, sebab itu sampaikanlah kepada mereka kabar gembira-Ku yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah tergolong kaum cendikiawan (orang cerdik pandai). (Q.S. Al Zumar/39 : 17-18).
Penyaringan informasi itu diperlukan agar kita dapat membuat pilihan informasi yang terbaik untuk anak dan keluarga kita, jika kita tidak ingin jatuh ke dalam penyembahan informasi sebagai ”berhala” baru bagi anak-anak kita. Baik penyaringan yang sifatnya langsung dengan, misalnya, memilih sekolah yang tepat, organisasi kemasyarakatan yang baik, buku bacaan yang sesuai, dan program televisi yang lebih mendidik. Penyaringan yang tidak langsung bisa dilakukan dengan dialog yang intens tentang nilai mana yang patut dibuang dan mana yang patut dicerna sebagai nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan. Misalnya, ketika melihat program televisi, orang tua bisa menjelaskan kelakuan mana yang baik dan terpuji serta perbuatan mana yang buruk dan tercela, yang tidak layak ditiru dan digugu.
Di sini prinsip keterbukaan dari orang tua sangat dibutuhkan untuk membantu kebuntuan dan kesalahan dalam mencerna informasi. Jika orang tua bisa mengembangkan dialog terbuka dan kritis dengan anak-anak dirumah, maka usaha mengurangi kebuntuan dan kesalahan pencernaan informasi dapat terkurangi. Jauh lebih baik memang manakala seorang anak memiliki kepekaan yang sama dengan orang tua untuk memulai suatu dialog yang konstruktif melalui cara-cara yang etis dan santun, maka bahaya penerimaan informasi dapat dihindarkan. Misalnya, informasi tentang bahay penggunaan obat-obat terlarang semacam narkotika, morfin dan ganja, atau tentang pergaulan bebas dikalangan remaja dewasa ini yang kian membudaya tanpa bisa dicegah.
Prinsip saling melengkapi juga amat dibutuhkan di dalam pembudayaan nilai-nilai agama kedalm dir anak. Janganlah orang tua menganggap bahwa dialah yang paling tahu segalanya sambil memperlakukan sang anak tetap sebagai ”anak kecil” yang harus selalu direcoki dengan berbagai petua dan fatwa. Tetapi, sang anak juga diberikan kesempatan yang sam untuk menyatakan pendapat dan pikirannya. Karena kadang-kadang sang anak ingin dihargai pilihan-pilihannya, dipahami perasaan-perasaannya, dimaklumi keputusan-keputusannya, dan di dengar komentar-komentarnya yang mungkin saja menyebalkan. Namun pada tingkat tertentu, sebenarnya orang tua sedang belajar kepada sikap kritis dari anak-anaknya sendiri. Ketika sang anak bersikap kritis, dan orang tua cukup demokratis, maka orang tua sesungguhnya harus berterima kasih bahwa tanpa disadari, orang tua sebenarnya sedang belajar memahami prilaku dan perkembangan anak-anaknya secara gratis, tanpa perlu mengikuti kursus kilat tentang pemberdayaan sumber daya manusia yang kini mulai menjamur di ibukota.
Hal ini penting dijelaskan agar kelak tidak terjadi seperti apa yang dialami di dunia Barat sebagai cognitif dissonance (kebingungan pengetahuan) antara apa yang didapatkan di rumah dan sekolah semuanya sama sekali tidak cocok dengan apa yang ditemukan ditengah-tengah masyarakat. Sang anak melihat semacam inkonsistens (ketidakserasian) wejangan orang tua di rumah dan guru di sekolah dengan kenyataan sehari-hari yang dia temukan di lingkungan masyarakat dimana dia bergaul, hidup dan dibesarkan. Orang tua dan guru misalnya meminta mereka jangan ingkar janji, namun dalam kenyataan hidup di masyarakat dia menemukan banyak orang yang kalau berjanji sulit memenuhi janjinya. Bahkan, kadang-kadang apa yang dikatakan selalu berkebalikan apa yang dilakukan. Kalau sudah begini, maka tidaklah terlalu salah bila anak kemudian mengucapkan ”selamat tinggal” kepada apa yang disebut dengan etika, moral, maupun nilai-nilai keagamaan yang selama ini mereka kenal.
Jadi, sebagai orang tua tidak perlu marah kalau dikritik oleh anak-anak sendiri. Dan tidak perlu malu mengaku salah dihadapan anak-anaknya kalau memang ada kesalahan yang harus diakui. Bila orang tua berlaku tertutup justru berakibat fatal. Anak bakal mencari figur (tokoh) lain di luar rumah sebagai suri tauladan. Karena bagi sang anak, orang tua model demikian sangat tidak layak dijadikan sebagai contoh tauladan, karena begitu sering mereka berlaku curang kepadanya. Manakala sang anak sudah berfikir sedemikian jeleknya, maka isyarat bahwa masa depan keluarga yang bersangkutan akan menghadapi tantangan yang sangat berat . Musuhnya yang paling berbahaya yang bakal mengadakan ”kudeta” (perebutan kekuasaan) terhadap kepemimpinan keluarga adalah dari dalam keluarga itu sendiri, yaitu anak-anaknya yang frustasi dan jengkel terhadap kedua orang tuanya itu.
Maka tidaklah mengherankan-misalnya berita akhir-akhir ini yang sering kita dengar-bila ada anak yang tega membunuh orang tuanya. Lebih tidak mengherankan lagi kalau ada murid menyiksa, memperkosa, lalu membunuh guru wanitanya tanpa belas kasihan. Contoh yang paling mengenaskan adalah seorang anak berusia sekitar 18 tahun membantai ayah, ibu, dan hampir seluruh kakak-kakaknya di Medan tanpa sedikitpun rasa bersalah dan berdosa. Melalui layar televisi kita bisa melihat raut wajahnya yang tenang tanpa merasa bersalah tatkala berhadapan dengan hakim yang mengadilinya. Begitu pula dengan nasib ibu guru cantik di Jawa Barat yang disiksa, diperkosa kemudian dibunuh secara sadis oleh anak muridnya sendiri dengan dendam membara.
Ini semua bisa terjadi, besar kemungkinan sang anak kecewa dengan kondisi kepemimpinan orang tua dan ketauladanan di dalam keluarganya yang dirasakannya sangat tidak adil. Atau, boleh jadi pemaknaan nilai-nilai telah dibuatkan oleh guru di sekolah maupun orang tua di rumah menjadi terbalik-balik diperparah dengan, katakanlah inspirasi yang ditemukan di jalanan, di bar-bar, di bioskop-bioskop, di layar televisi atau mungkin juga buku-buku porno yang di endap-endap di bawah bantal. Sungguh batapa besar andil era informasi dalam menawarkan nilai-nilai dengan acuan pemaknaan yang beraneka ragam, kalau tanpa filterasi dari orang tua, guru, atau masyarakat dengan suri tauladan yang padu antara kata dan perbuatan, maka informasi yang ditawarkan oleh berbagai media semakin menjadi ”neraka” bagi masa depan anak –anak kita.
Seberapa parahkah pengaruh era informasi yang mengglobal dewasa ini yang mampu menjungkirbalikkan nilai- nilai msyarakat? Tingkat keparahannya memang sulit diukur secara matematis, namun dampaknya benar-benar sangat terasa di masyarakat. Karena itu, membuat program antisipatif untuk menanggulanginya adalah langkah strategis yang harus dikerjakan secara teliti, serius dan konsisten. Di dalam Al Qur’an surat Al Hujurat/49 ayat 6 Allah berfirman:
” Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu informasi, maka periksalah informasi itu dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya, (di suatu hari) justru membuatmu menyesal atas perbuatamu itu.”
Manis sekali kiranya bila ayat ini dibenturkan dengan kondisi objek bangsa kita hari ini, kini dan di sini. Betapa banyak musibah yang terjadi ditanah air kita akhir-akhir ini mulai dari tragedi Trisakti, insiden Semanggi, kasus Banyuwangi, peristiwa Ketapang, Kupang, Ambon, dan terakhir di Sambas Kalimantan Barat – akibat dari cara penyampaian dan memperoleh informasi yang tidak terseleksi dengan baik dan benar seperti diisyaratkan oleh ayat suci. Media informasi juga tak kurang bertanggung jawabnya terhadap apa yang terjadi akhir-akhir ini berkat pemberitaan yang cenderung tendensius dan emosional.
Kasus-kasus itu, sebenarnyalah tidak berdiri sendiri bila ditinjau dari perspektif ilmu komunikasi. Bahwa orang kemudian berkesimpulan tentang banyak kasus yang benar-benar menaikan bulu kuduk kita dewasa ini, sebagiannya disebabkan oleh ulah para ’’provokator’’, dan salah satu ’’provokator’’ yang paling serius menurut saya adalah media informasi. Media informasilah yang paling besar peranannya dalam memperparah atau justru memperbaiki keadaan, tergantung ’’moral’’ orang-orang yang menjalankan media itu sendiri.di sini, unsur ’’kepentingan’’ dan nuansa politis yang membawahi media yang bersangkutan sangat menentukan informasi macam apa yang harus dikemas dan dilemparkan ke publik.
Bila dilacak lebih jauh sebab musabab turunnya ayat yang baru saja kita kutip, ternyata berkaitan erat dengan seseorang yang secara sepihak membuat kesimpulan yang berbau ”menghasut” massa tetntang informasi yang belum pasti kebenarannya, namun buru-buru diberitakan sehingga berakhir dengan malapetaka seorang utusan Nabi Muhammad dikeroyok ramai-ramai, bahkan hampir saja dibunuh kalau bukan ada sahabat yang berbaik hati menyelamatkannya. Orang itu sebenarnya yang justru datang untuk menyampaikan dakwah seraya menjadi guru buat mereka. Tetapi, informasi yang diterima bahwa yang datang itu adalah orang ”kafir” yang hendak meminta mereka melepaskan agama Nabi Muhammad dan kembali ke agama nenek moyang seperti sediakala. Maka, turunlah ayat tersebut memberi penjelasan agar umat tidak lekas percaya dengan sumber informasi sebelum dicek kebenarannya melalui sumber informasi yang lain. Di sini unsur kehati-hatian menjadi sangat penting. ”Berhati-hat itu dari Allah, dan tergesa-gesa itu dari syaithan,” demikian sebuah kalimat hikmah.
Sungguhpun diakui bahwa berkat kemajuan teknologi informasi, umat manusia telah dimudahkan dan dimanjakan olehnya untuk mencapai segala yang dibutuhkan dalam hidup. Namun, dalam waktu yang bersamaan, kita juga sedang ’’digarap’’ habis-habisan oleh media informasi kalau kita kurang hati-hati di dalam menerima dan mengolahnya secara profesional dan proporsional. Bayangkan tragedi-tragedi besar yang meluluh-lantakan harta benda seraya mencabut secara keji nyawa manusia hanya karena ulah ’’informen’’ atau disebut-sebut sebagai ’’provokator’’ yang tidak bertanggung jawab itu. Kalau seluruh udara tanah air ini disesaki dengan informasi yang bersemangat kebencian dan penuh dengan’’adu domba’’ maka barang kali kita bisa membayangkan akan seperti apa perjalanan bangsa kita kedepan sungguh mengerikan.
Karena itu, kita percaya bahwa hanya ajaran agama yang mampu memberikan injeksi moral bahwa memberikan kabar bohong, berita dusta, atau informasi palsu dan keterangan yang mengadu domba adalah perbuatan terkutuk yang dicela agama dengan ancaman neraka. Agama membekali hambanya dengan nilai-nilai baik, benar dan indah, dan dengan nilai itu dia akan tampil menjadi manusia beradab dan berkemanusiaan. Keadaban akan hancur dan kemanusiaan akan binasa kalau manusia mengabaikan nilai-nilai yang mengangkat derajat kemanusiaan itu. Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang dikarunia kemampuan untuk memberi dan menyeleksi informasi sesuai dengan semangat kebaikan, kebenaran dan keindahan berdasarkan tuntunan moral dan nilai-nilai agama yang hanif . ’’Wallahu a’alam’’

(Dikutip dari buku Kehampaan Spiritual Masyarakat Modern).

Uslih (Mahasiswa Program Studi Bahasa Inggris – Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri STAIN) Jurai Siwo Metro-Lampung))
Website : oeslih-firstson.blogspot.com
Email : uslih.firstson@gmail.com

Be Continue.. Label:

Poetry

08.47 / Diposting oleh UsLih First / komentar (0)

It’s me,
Uslih, 2008

Do you trust in the sun shining?
Do you trust in the leaves wiggling?
Do you trust in the black jacket hanging in your cupboard?
Do you trust in the sandals in front of your door?

Do you trust in the pillow and the blanket warming you every night?
Do you trust in the mirror reflecting your shadow?
Do you trust in the one teaching you?
Do you trust in the beggar in front of that shop?
The sun, leaves, black jacket, sandals
The pillow and blanket, mirror, teacher, and beggar
Nothing can be trusted
They are liars
I have trusted cup, I have trusted clock
Also, the cigarette in its warm, but they lie in real

I trust in God only
I trust myself only

Bukan Sungai yang Mati
Erwinsyah, 2008

Tak perlu bertanya bagaimana rasanya menunggu.
menunggu hanya butuh sedikit kesabaran, ketenangan
hingga kau benar-benar dapat menyadarinya
dari purnama ke purnama binar bebintang memenuhi ruang angkasa
pada malam yang cerah

bila ada yang bertanya bagaimana rasanya diam dan menengadahkan wajah
ke muka langit, jawabnya sederhana, tinggal bagaimana kita merelakan yang fana, datang dan pergi, hidup dan mati, hancur dan utuh kembali.

Tapi bila ada yang tahu sedikit saja mengapa arus sungai di jeramnya yang berlalu selalu tampak baru, jelas tidak seperti batu, diam, menunggu, dan dilalui arus sungai yang sedang melaju.

Pernah di sebuah tempat di bibir pantai yang bermata air tawar arusnya tak ragu melaju mengalir bersatu ke dalam lautan.

Dan di mata hatiku engkaupun bagai mutiara yang bersembunyi di bawah hamparan butir pasir di bibir pantai, akupun tak ingin berhenti berharap seperti ombak laut yang llembut mengikis butir-butir pasir itu hingga mutiara tampak ke muka berkilauan seperti fajar yang kerap nampak bagai kaca-kaca air diatas lautan.

Fuck____________________
Uslih, 2008

Just flag remain to be flag
Has never known do the people absolutely have independence
Wind even also just remain to be blow
Has never cares morning, noon nor night, cool nor heat

Just people remain to be say
Like bird which is hunger
Just price remain to be go up
Like child which see his kite in the sky

Wise people die
While fucker still can laugh
World does not be dreamlike of me
All beauty is only fucker fable

There is no harm to say fuck by of all!

Feast Qurban of Human (Dedicated to the war of Gaza)
By. Uslih. January, 2009

The music is loud in my room
I do enjoy of everything
The screen of my computer is bright
As bright as the sky
I drink a glass of coffee then close my eyes
Then a bar of cigarette comes into my lips

In the morning of a habit
A bundle of newspaper opened to look through the window of the world
Beginning from celebrity, sport, politic and economic news I read
All of them so attract of my eyes to catch sentences by sentences
Then I get a title
Huh, it’s really a Feast Qurban of Human, isn’t it?

Again, I drink a glass of coffee which I put my side
Then a single of cigarette return to my lips
I try to change my sit
I try to catch all of the words

It takes me about five minutes to read all the words
I guides me sympathy
I let a bar of cigarette enclosed among my fingers
I let a glass of coffee become a lake of conceited flies

Palestina, I catch their eyes tearful
Palestina, I catch their body bloody
Gaza, I catch the light of Israel missile out of the destroyer gun
Gaza, I catch the loud of explosion of destroying gun

Everything is like out of my sense and out of walking corpse sense
Only silent and do nothing of the imperialism power

The world can talk only
The world can curse only
The world can be sympathy only
Great a feast Qurban of human

Be Continue.. Label:

Masa Tenang roh Mahasiswa

00.20 / Diposting oleh UsLih First / komentar (0)

Masa Tenang Roh Mahasiswa
(Respon terhadap 100 tahun Kebangkitan Nasional dan 10 tahun reformasi serta realitas Mahasiswa STAIN Jurai Siwo Metro}
Oleh. Uslih (Presiden Mahasiswa, BEM STAIN Jurai Siwo Metro 2007-2008)

Zaman dan masa terus berpacu mengiringi sang waktu yang tak pernah ada yang bisa menghentikanya. Bersanding dengan dinamika teori dan aplikasi manusia yang juga terus berpacu dengan mesin waktu dan realitas yang paradoks dengan cita-cita manusia sendiri. Rasanya, keberangkatan kendaraan semangat perubahan terkantuk batu yang begitu besar dan terasa sulit untuk dilewati. Revolusi yang pernah dilakukan pun seperti mie instant yang terlalu matang dan akhirnya mblobor (menggunakan istilah bahasa jawa) sehingga tidak terasa nikmat lagi. Begitu pula dengan bergulirnya seabad Kebangkitan Nasional dan 10 tahun reformasi yang seperti telah kehilangan interpretasi sejarah yang seharusnya dan sepatutnya dijadikan landasan berpikir dalam merespon kebijakan dan kadigjayaan punggawa-pungawa negeri ini yang semakin tak berpihak kepada rakyat.


Mei 2008 seolah menyampaikan pesan kesadaran kepada kita bahwa banyak sahabat-sahabat yang setiap hari bermain di halaman rumah kita (STAIN Jurai Siwo Metro) yang menyandang predikat ”kemestian” untuk diperhatikan. Mereka adalah yang kehilangan sensitivisme gerakan, yang salah niat mencari jati diri dengan happy fun, yang enggan memberi senyum ketika bertemu dengan saudaranya, yang lupa dengan almamternya, dan yang kebablasan menjadi selebrity tapi lupa dengan behaviour dan brain padahal bold and beauty juga belum mencukupi standar.

Kalau mau mencari-cari penyebab dari semua itu, memang menemukan sebuah kesulitan karena pesakitan yang dialami oleh mahasiwa bisa dikatakan seperti virus yang mewabah. Lambat laun tapi pasti menyebabkan kematian-kematian generasi penerus bangsa yang menyandang gelar sebagai agent of change dan social control. Dan hal yang paling ditakutkan adalah akan lahirnya generasi-generasi yang kumaha juragan wae (bagaimana bos aja). Sehingga tidak ada lagi progress karena mind stream yang statis. Kalau itu benar terjadi maka bersiap lah memasuki abad konteporer kapitalime di negri yang gemah ripah loh jinawi ini.

Jika kita tidak ingin semua itu terjadi, pada 100 tahun bergulirnya kebangkitan nasional dan 10 tahun reformasi ini kita harus merevitalisasi generasi mahasiswa yang konsumtif dan hedonistik. Mahasiswa yang tidak mampu menyaring penetrasi nilai budaya asing dan perkembangan zaman. Mahasiswa yang umumnya mempunyai kemajuan zaman dan moderenisasi hanya secara simbolistik. (simbol-simbol dunia kulitan). Yang pola hidup sehari-harinya hanya berkisar pada love, study and party (pacaran, kuliah dan hura-hura). Karena ironisnya, love and party lebih didahulukan, di mana jumlah mahasiswa seperti ini adalah mayoitas. Kita harus mereinkarnasi generasi-genarsi aktifis organisasi intra dan ekstra kampus. Generasi yang memiliki kepedulian terhadap masalah-masalah kemasyarkatan dan kenegaraan sebagai basis aktifitasnya yang didasari oleh agama, profesi minat dan bakat serta kedaerahannya meskipun jumlahnya masih sedikit dari populasi yang ada.

Kebangkitan nasional dan reformasi mind seat generasi mahasiswa secepatnya harus kita gulirkan. Hal ini agar tidak terjadi estafet generasi mahasiswa berpredikat sketisme religi. Yaitu generasi mahasiswa yang tidak sanggup dalam merespon dan berapreseasi terhadap perkembangan sosial politik dan moderenisasi. Generasi yang emosional memahami agama yang diwujudkan dalam eksklusivisme gerakan-gerakan keagmaan di kampus. Di mana esensi gerakan yang dikembangakan justru tidak terlihat, tetapi sebaliknya gerakan simbolitas dan eksklusivitas yang ada. Hal ini dapat dibuktikan seperti pada bentuk pakaian, sikap tertutup terhadap komunitas mahasiswa dan agama lain. Mereka beranggapan ukuran kemajuan bukan pemikiran tapi penampilan luar, bersikap apolojik bahkan anti politik tetapi sebenarnya mereka sangat mudah digerakkan secara politik jika disentuh emosional keagamaanya. Dengan demikian, generasi mahasiswa proletarian, yang terlalu apriori terhadap yang berbau birokratis, pemerintah dan apa saja yang berasal dari atas, pun dapat kita kebiri pejantannya agar tidak berkembang biak. Sehingganya, generasi mahasiswa profesionalitas dan individualistik, yang pragmatis dan hedonistik yang memandang bahwa perkembangan zaman yang cenderung terspesialisasi baik secara keilmuan maupun keterampilan, hanya sekedar upaya memenuhi kebutuhan materi secara individu. Yang terjangkit penyakit serba ingin cepat lulus kuliah meskipun nyontek dan membeli nilai, dan ingin cepat kerja meskipun nyogok, ingin hidup cepat kaya meskipun korupsi dan mengeksplorasi terhadap kelompok lain pun dapat kita sembuhkan.


Semoga fenomena yang terjadi di halaman rumah kita saat ini hanya sebatas ”masa tenang roh mahasiswa” saja. Saya berharap sahabat-sahabat mahasiswa akan kembali bangkit sebenar-benarnya bangkit, seperti apa yang telah dilakukan oleh Boedi Utomo seratus tahun yang lalu. Reformasi sebenar-benarnya reformasi, selayaknya reformasi yang dicita-citakan oleh segenap penghuni negeri ini, yaitu reformasi untuk lebih baik daripada masa yang lalu. Bukan kebangkitan semu dan bukan reformasi yang menjadi bumerang karena salah kaprah. Tidak ada kata terlambat dan menyerah untuk berkarya bagi negeri ini. Dengan jiwa yang sehat, dinamis dan senatiasa berpegang kepada landasan yang sakral, kita bisa mengubah bangsa ini menjadi lebih terhormat dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain.

Jika kita tidak bisa melakukan hal yang besar tidak lah mengapa, marilah kita lakukan hal-hal kecil dengan cara yang besar (gagal dengan cara A, gunakan cara B, dst). Semoga bukan sebuah kesalahan jika saya menyerukan ”Hindari wisuda dini agar tidak menjadi sarjana premateur!” Long live, Mahasiswa!

Be Continue.. Label: